Jumat, 23 April 2010

KEUTAMAAN MENGHATAM AL-QUR'AN

Dari Ibnu Abbas r.a., beliau mengatakan ada seseorang yang bertanya kepada Rasulullah saw. “Wahai Rasulullah, amalan apakah yang paling dicintai Allah?” Beliau menjawab, “Al-hal wal murtahal.” Orang ini bertanya lagi, “Apa itu al-hal wal murtahal, wahai Rasulullah?” Beliau menjawab, “Yaitu yang membaca Al-Qur’an dari awal hingga akhir. Setiap kali selesai ia mengulanginya lagi dari awal.” (HR. Tirmidzi)

Generasi sahabat dapat menjadi generasi terbaik (baca; khairul qurun) adalah karena mereka memiliki ihtimam yang sangat besar terhadap Al-Qur’an. Sayid Qutub dalam bukunya Ma’alim Fii Ath-Thariq menyebutkan tiga faktor yang menjadi rahasia mereka mencapai generasi terbaik seperti itu. Pertama karena mereka menjadikan Al-Qur’an sebagai satu-satunya sumber pegangan hidup, sekaligus membuang jauh-jauh berbagai sumber-sumber kehidupan lainnya. Kedua, ketika membacanya mereka tidak memiliki tujuan-tujuan untuk tsaqafah, pengetahuan, menikmati keindahan ataupun tujuan-tujuan lainnya. Namun tujuan mereka hanya semata-mata untuk mengimplementasikan apa yang diinginkan Allah dalam kehidupan mereka. Ketiga, mereka membuang jauh-jauh segala hal yang berhubungan dengan masa lalu ketika jahiliyah. Mereka memandang bahwa Islam merupakan titik tolak perubahan, yang sama sekali terpisah dengan masa lalu, baik yang bersifat pemikiran ataupun kebudayaan.

Tilawatul qur’an; itulah kunci utama kesuksesan mereka. Imam Syahid Hasan Al-Banna mengatakan, “Usahakan agar Anda memiliki wirid harian yang diambil dari kitabullah minimal satu juz per hari dan berusahalah agar jangan mengkhatamkan Al-Qur’an lebih dari sebulan dan jangan kurang dari tiga hari.”

Keutamaan Membaca al-Qur’an

Dalam kitab Riyadhus Shalihin, Imam Nawawi memaparkan hadits-hadits yang berkenaan dengan keutamaan membaca Al-Qur’an. Di antaranya:

1. Akan menjadi syafaat bagi pembacanya di hari kiamat.

Dari Abu Amamah ra, aku mendengar Rasulullah saw. bersabda, “Bacalah Al-Qur’an, karena sesungguhnya ia akan menjadi syafaat bagi para pembacanya di hari kiamat.” (HR. Muslim)

2. Mendapatkan predikat insan terbaik.

Dari Usman bin Affan ra, Rasulullah saw. bersabda, “Sebaik-baik kalian adalah yang mempelajari al-Qur’an dan mengajarkannya.” (HR. Tirmidzi)

3. Mendapatkan pahala akan bersama malaikat di akhirat, bagi yang mahir mambacanya.

Dari Aisyah ra, berkata; bahwa Rasulullah saw. bersabda, “Orang yang membaca Al-Qur’an dan ia mahir membacanya, maka kelak ia akan bersama para malaikat yang mulia lagi taat kepada Allah.” (HR. Bukhari Muslim)

4. Mendapatkan pahala dua kali lipat, bagi yang belum lancar.

“Dan orang yang membaca Al-Qur’an, sedang ia masih terbata-bata lagi berat dalam membacanya, maka ia akan mendapatkan dua pahala.” (HR. Bukhari Muslim)

5. Akan diangkat derajatnya oleh Allah

Dari Umar bin Khatab ra. Rasulullah saw. bersabda,: “Sesungguhnya Allahswt. akan mengangkat derajat suatu kaum dengan kitab ini (Al-Qur’an), dengan dengannya pula Allah akan merendahkan kaum yang lain.” (HR. Muslim)

6. Mendapatkan sakinah, rahmat, dikelilingi malaikat, dan dipuji Allah di hadapan makhluk-Nya.

Dari Abu Hurairah ra. Rasulullah saw. bersabda, “Tidaklah suatu kaum berkumpul di salah satu rumah-rumah Allah untuk melantunkan ayat-ayat suci Al-Qur’an dan mempelajarinya, melainkan akan turun kepada mereka ketengangan, akan dilingkupi pada diri mereka dengan rahmat, akan dilingkari oleh para malaikat, dan Allah pun akan menyebut (memuji) mereka di hadapan makhluk yang ada di dekat-Nya.” (HR. Muslim)

Keutamaan mengkhatamkan al-Qur’an

a. Merupakan amalan yang paling dicintai Allah

Dari Ibnu Abbas ra, beliau mengatakan ada seseorang yang bertanya kepada Rasulullah saw., “Wahai Rasulullah, amalan apakah yang paling dicintai Allah?” Beliau menjawab, “Al-hal wal murtahal.” Orang ini bertanya lagi, “Apa itu al-hal wal murtahal, wahai Rasulullah?” Beliau menjawab, “Yaitu yang membaca Al-Qur’an dari awal hingga akhir. Setiap kali selesai ia mengulanginya lagi dari awal.” (HR. Tirmidzi)

b. Orang yang mengikuti khataman Al-Qur’an, seperti mengikuti pembagian ghanimah

Dari Abu Qilabah, Rasulullah saw. mengatakan, “Barangsiapa yang menyaksikan (mengikuti) bacaan Al-Qur’an ketika dibuka (dimulai), maka seakan-akan ia mengikuti kemenangan (futuh) fi sabilillah. Dan barangsiapa yang mengikuti pengkhataman Al-Qur’an maka seakan-akan ia mengikuti pembagian ghanimah.” (HR. Addarimi)

c. Mendapatkan doa/shalawat dari malaikat

Dari Mus’ab bin Sa’d, dari Sa’d bin Abi Waqas, beliau mengatakan, “Apabila Al-Qur’an dikhatamkan bertepatan pada permulaan malam, maka malaikat akan bersalawat (berdoa) untuknya hingga subuh. Dan apabila khatam bertepatan pada akhir malam, maka malaikat akan bershalawat/ berdoa untuknya hingga sore hati.” (HR. Addarimi.)

d. Mengikuti sunnah Rasulullah saw.

Mengkhatamkan Al-Qur’an merupakan sunnah Rasulullah saw. Hal ini tergambar dari hadits berikut: Dari Abdullah bin Amru bin Ash, beliau berkata, “Wahai Rasulullah saw., berapa lama aku sebaiknya membaca Al-Qur’an?” Beliau menjawab, “Khatamkanlah dalam satu bulan.” Aku berkata lagi, “Sungguh aku mampu lebih dari itu, wahai Rasulullah?” Beliau menjawab, “Khatamkanlah dalam dua puluh hari.” Aku berkata lagi, “Aku masih mampu lebih dari itu, wahai Rasulullah.” Beliau menjawab, “Khatamkanlah dalam lima belas hari.” “Aku masih lebih mampu lebih dari itu, wahai Rasulullah.” Beliau menjawab, “Khatamkanlah dalam sepuluh hari.” Aku menjawab, “Aku masih lebih mampu lagi, wahai Rasulullah.” Beliau menjawab, “Khatamkanlah dalam lima hari.” Aku menjawab, “Aku masih lebih mampu lagi, wahai Rasulullah.” Namun beliau tidak memberikan izin bagiku. (HR. Tirmidzi)

Waktu mengkhatamkan Al-Qur’an

a. Keutamaan waktu yang dibutuhkan untuk mengkhatamkan Al-Qur’an

Dari Abdullah bin Amru bin Ash, dari Rasulullah saw., beliau berkata, “Puasalah tiga hari dalam satu bulan.” Aku berkata, “Aku mampu untuk lebih banyak dari itu, wahai Rasulullah.” Namun beliau tetap melarang, hingga akhirnya beliau mengatakan, “Puasalah sehari dan berbukalah sehari, dan bacalah Al-Qur’an (khatamkanlah) dalam sebulan.” Aku berkata, “Aku mampu lebih dari itu, wahai Rasulullah?” Beliau terus malarang hingga batas tiga hari. (HR. Bukhari)

Hadits ini menunjukkan batasan waktu paling minimal dalam membaca Al-Qur’an. Karena dalam hadits lain terkadang beliau membatasi hanya boleh dalam 5 hari, dan dalam hadits yang lain dalam tujuh hari. Maka dari sini dapat disimpulkan, batasan paling cepat dalam mengkhatamkan Al-qur’an adalah tiga hari.

b. Larangan untuk mengkhatamkan kurang dari tiga hari

Hadits di atas juga mengisyaratkan larangan Rasulullah saw. untuk mengkhatamkan Al-Qur’an kurang dari tiga hari. Hikmah di balik larangan tersebut, Rasulullah saw. katakan dalam hadits lain sebagai berikut:

Dari Abdullah bin Amru, beliau mengatakan bahwa Rasulullah saw. bersabda, “Tidak akan dapat memahami/menghayati Al-Qur’an, orang yang membacanya kurang dari tiga hari.” (HR. Abu Daud)

c. Rasulullah saw. tidak pernah mengkhatamkan Al-Qur’an dalam satu malam

Dari Aisyah ra, beliau mengatakan, “Aku tidak pernah tahu Rasulullah saw. mengkhatamkan Al-Qur’an secara keseluruhan pada malam hingga fajar.” (HR. Ibnu Majah)

Sunnah dalam teknis mengkhatamkan Al-Qur’an

Adalah Anas bin Malik, beliau memiliki kebiasaan apabila telah mendekati kekhataman dalam membaca Al-Qur’an, beliau menyisakan beberapa ayat untuk mengajak keluarganya guna mengkhatamkan bersama.

Dari Tsabit al-Bunnani, beliau mengatakan bahwa Anas bin Malik jika sudah mendekati dalam mengkhatamkan Al-Qur’an pada malam hari, beliau menyisakan sedikit dari Al-Qur’an, hingga ketika subuh hari beliau mengumpulkan keluarganya dan mengkhatamkannya bersama mereka. (HR. Darimi)

Hikmah yang dapat dipetik dari hadits Anas di atas, adalah bahwa ketika khatam Al-Qur’an merupakan waktu yang mustajab untuk berdoa kepada Allah. Dengan mengumpulkan seluruh anggota keluarga, akan dapat memberikan berkah kepada seluruh anggota keluarga. Karena, semuanya berdoa secara bersamaan kepada Allah mengharapkan rahmat dan berkah dari-Nya.

Kiat-Kiat Agar Senantiasa Dapat Mengkhatamkan Al-Qur’an

Ada beberapa kiat yang barangkali dapat membantu dalam mengkhatamkan Al-Qur’an, di antaranya adalah:

1. Memiliki ‘azam’ yang kuat untuk dapat mengkhatamkannya dalam satu bulan. Atau dengan kata lain memiliki azam untuk membacanya satu juz dalam satu hari.

2. Melatih diri dengan bertahap untuk dapat tilawah satu juz dalam satu hari. Misalnya untuk sekali membaca (tanpa berhenti) ditargetkan setengah juz, baik pada waktu pagi ataupun petang hari. Jika sudah dapat memenuhi target, diupayakan ditingkatkan lagi menjadi satu juz untuk sekali membaca.

3. Mengkhususkan waktu tertentu untuk membaca Al-Qur’an yang tidak dapat diganggu gugat, kecuali jika terdapat sebuah urusan yang teramat sangat penting. Hal ini dapat membantu kita untuk senantiasa komitmen membacanya setiap hari. Waktu yang terbaik menurut penulis adalah ba’da subuh.

4. Menikmati bacaan yang sedang dilantunkan oleh lisan kita.
Lebih baik lagi jika kita memiliki lagu tersendiri yang stabil, yang meringankan lisan kita untuk melantunkannya. Kondisi seperti ini membantu menghilangkan kejenuhan ketika membacanya.

5. Usahakan untuk senantiasa membersihkan diri (baca: berwudhu’) terlebih dahulu sebelum kita membaca Al-Qur’an. Karena kondisi berwudhu’, sedikit banyak akan membantu menenangkan hati yang tentunya membantu dalam keistiqamahan membaca Al-Qur’an.

6. Membaca-baca kembali mengenai interaksi generasi awal umat Islam, dalam berinteraksi dengan Al-Qur’an, baik dari segi tilawah, pemahaman ataupun pengaplikasiannya.

7. Memberikan iqab atau hukuman secara pribadi, jika tidak dapat memenuhi target membaca Al-Qur’an. Misalnya dengan kewajiban infaq, menghafal surat tertentu, dan lain sebagainya, yang disesuaikan dengan kondisi pribadi kita.

8. Diberikan motivasi dalam lingkungan keluarga jika ada salah seorang anggota keluarganya yang mengkhatamkan al-Qur’an, dengan bertasyakuran atau dengan memberikan ucapan selamat dan hadiah.

Mengkhatamkan Al-Qur’an merupakan sifat Rasulullah, para sahabat, salafuna shaleh, dan orang-orang mukmin yang memiliki ketakwaan kepada Allah. Seyogyanya, kita juga dapat memposisikan Al-Qur’an sebagaimana mereka memiliki semangat, meskipun kita jauh dari mereka.

“Dan orang-orang yang berjihad untuk (mencari keridhaan) Kami, benar-benar akan Kami tunjukkan Kepada mereka jalan-jalan Kami. Dan sesungguhnya Allah benar-benar beserta orang-orang yang berbuat baik.” (An-Ankabut: 69).

Sumber : http://www.dakwatuna.com/2007/keutamaan-mengkhatamkan-al-quran/

Kamis, 22 April 2010

Senin, 05 April 2010

ADAB MAKAN DAN MINUM (bg 1)

Selain untuk memenuhikebutuhan jasmaniah, dalam pandangan Islam, makan (minum) mempunyai aspek ibadah. Hal ini terjadi, jika makan (minum) dilandasi oleh mabda yang jelas, ikhlas untuk ibadah kepada Alloh SWT, bukan hanya untuk memuaskan "nafsu" belaka. Dan dalam ajaran Islam, adabiyah makan (minum) telah diatur sedemikian rupa.

Hingga kini, tak sedikiy diantara kaum muslimin yang kurang memahamui adabiyah makan (minum). Sehingga tidak aneh jika ada seorang muslim yang makan (minum) langsung saja "menyerbu" makanan (minuman) tanpa memperhatikan adabiyah yang telah ditetapkan. Tetap saja, dalam pandangan akhlaq Islam, perbuatan seperti itu tidak termasuk dalam lingkaran akhlaqul karimah. Diantara adabiyah makan (minum) yang harus diperhatikan oleh setiap muslim :

a. Membaca do'a sebelum/sesudah makan.
Do'a sebelum makan, dalam hadits yang diriwayatkan oleh Ibnu Sinni dari Abdullah bin Amr bin Ash, sesungguhnya Nabi Saw berdo'a ketika hendak makan, " ALLAAHUM MABARIK LANAA FIIMAARAZAQTAA WAQIINAA'ADZABAN NAAR BISMILLAAHIRRAHMANNIRRAHIIM", (Ya Alloh, berkahilah kami dalam rizki yang telah Engkau berikan kepada kami, dan peliharalah kami dalam siksa neraka. Dengan nama Alloh Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang). (HR. Ibnu Sini).
Dan do'a sesudah makan adalah, "Alhamdulillaahil ladzii sth'amanaa wa saqaanaa waja'alanaa muslimiina". (Segala puji bagi Alloh yang telah memberi makan dan minum, serta, menjadikan kami muslim). (HR. Abu Dawud).
Atau berdo'a seperti dibawah ini, "Al-hamdulillahil ladzii ath'amanii wa laa quwwatin". (Segala puji bagi Alloh yang telah memberiku makanan ini dan melimpahkannya kepadaku tanpa daya dan kekuatanku. (HR. Abu Dawud, Tirmidzi, Ibnu Majah). Dan
Dengan demikian, hendaknya seorang muslim tidak melupakan do'a-do'a diatas. Tak sedikit diantara kaum muslimin yang melupakan do'a tersebut ketika hendak atau sesudah makan. Dan tentunya dengan penuh kesadaran hati, hendaknya do'a tersebut diucapkan ketika hendak atau setelah makan. Jangan sampai terburu "nafsu" karena lapar sehingga melupakan do'a tersebut.
Bahkan, jika kita lupa membaca do'a, ada tuntunan Rasululloh Saw yang harus dijadikan pegangan. Sebagaimana diriwayatkan dalam sebuah hadits, "Dari 'Asyah ra, ia berkata,"Rasul saw telah bersabda, "Jika salah seorang diantara kamu hendak makan maka hendaklah mengucapkan BISMILLAH, maka jika lupa membaca BISMILLAH pada awalnya, hendaklah ia mengucapkan, BISMILLAH AWWALAHU WA AAKHIRAHU" (HR. Abu Dawud-at Tirmidzi).
Dan,Jika do'a tidak dibaca, hal ini merupakan kebahagian bagi syetan, Hadits Rasul saw menerangkan, "Dari Jabir ra, ia berkata, "aku mendengar Rasulullah saw bersabda, "Apabila seorang masuk ke dalam rumahnya dengan menyebut Bismillah ketika masuk dan ketika makan, maka syetan berkata kepada temannya; "Disini, tidak ada tempat tinggal dean tidak ada bagian makanan bagi kamu". Dan bila masuk tidak menyebut nama Alloh, syetan berkata, "kamu dapat bermalam di rumah ini".(HR. Muslim)
Dengan keterangan diatas jelaslah bahwa berdo'a ketika hendak makan bukan hanya untuk mengharapkan berkah dari apa yang telah diberikan oleh Alloh SWT kepada kita tetapi berfungsi pula untuk "mengusir" syetan agar kita tidak "bersahabat" dengannya. Dengan itu pula kita tidak "bersahabat" dengannya. Dengan itu pula tidak memberikan kesempatan kepada syetan untuk senantiasa "bersama kita.
Bahkan, ketika kita lupa tidak membaca do'a saat hendak makan kemudian kita membaca bismillahi awwalahu wa akhirahu, syetan pun tidak mempunyai kesempatan untuk "bersama" kita. Sehingga pada saat tertentu Rasulullah Saw tertawa melihat tingkah laku syetan yang ikut makan, tetapi karena orang yang makan itu membaca "Bismillahi awwalahu wa akhirahu"' dengan serta merta syetan memuntahkan apa yang telah dimakannya.
Dari Ummayyah bin Makhsyi ash-shahabi ia berkata, "Ketika Rasulullah saw sedang duduk, ada seorang laki-laki makan dengan tidak menyebut nama Alloh, sehingga tidak tinggal dari makanannya kecuali sesuap. Tiba-tiba ketika yang sisa itu akan diletakkan dimulutnya, ia membaca "Bismillahi awwalahu wa akhirahu, maka Nabi Saw tertawa dan bersabda,"Syetan selalu makan bersama ia, kemudian ketika ia menyebut nama Alloh, tiba-tiba syetan itu memuntahkan isi perutnya".(HR. Abu Dawud, An-nasaie).

Minggu, 04 April 2010

Pembangunan Masjid Timbulkan Islamophobia Bagi

WARSAWA (Arrahmah.com) - Pembangunan masjid sebetulnya bukan hal baru di negara-negara di kawasan Eropa Barat, namun baru bagi Polandia. Puluhan demonstran menggelar protes di pinggiran kota menentang pembangunan tersebut pada Kamis (1/4).

Rencana komunitas kecil Muslim di Polandia untuk membangun masjid dan Islamic center ditentang oleh warga setempat yang ketakutan bahwa Islam dapat menyebar ke arah timur dan mengguncang kestabilan Katolik Uni Eropa.

Antara 15.000 dan 30.000 umat Islam, banyak dari mereka imigran dari Chechnya, tinggal di Polandia - negara ex-komunis terbesar di Uni Eropa di mana lebih dari 90 persen dari 38 juta populasi menyatakan diri sebagai Katolik.

"Pusat tersebut (masjid) sangat sering dijadikan sebagai sumber radikalisasi," kata seorang pengunjuk rasa.

Para pemrotes itu mengacungkan spanduk yang menggambarkan menara seperti rudal, senada dengan poster kampanye pelarangan menara masjid di Swiss.

Selain itu, mereka meneriakkan "Jangan ulangi kesalahan Eropa" dan "toleransi berlebihan akan membunuh akal sehat," dan menuntut agar negeri-negeri muslim menghormati hak-hak perempuan dan kebebasan beragama.

"Lihatlah apa yang terjadi di Eropa, saya tidak ingin putri saya terpaksa memakai burka suatu saat," kata seorang pengunjuk rasa bernada melecehkan.

"Tidak ada alasan untuk menghentikan pembangunan ini," kata Samir Ismail kepala Liga Muslim yang menekankan pada kebutuhan dan semakin meningkatnya warga migran Muslim di negeri yang penduduknya pernah menjadi sasaran pembantaian NAZI pada zamannya. (althaf/rtrs/arrahmah.com)

Kamis, 01 April 2010

Musik SKA P


Salah satu group band SKA yang mendukung perjuangan rakyat Palestina.

Laba-Laba Si Penyembuh

by Takodok!

Sarang laba-laba di rumah tentu mengganggu. Tak sedap dipandang, juga memberi kesan rumah tak terurus alias si penghuni malas membersihkan rumahnya. Tapi sarang laba-laba ini bisa juga bermanfaat. Selain diketahui memiliki serat yang sangat kuat, sarang atau jaring laba-laba bisa berfungsi sebagai penyembuh luka.

Jaring laba-laba dikenal sebagai serat alami terkuat yang pernah ada dan memiliki potensi yang belum diketahui dalam dunia kesehatan sebagai tendon buatan atau untuk memperbaiki ligament. Jaring laba-laba terbuat dari molekul protein kompleks yang dikeluarkan oleh laba-laba melalui bagian belakang tubuhnya. Jaring laba-laba sangatlah kuat, kekuatan regangnya dapat dibandingkan dengan besi kualitas tinggi hingga 1.3 GPa. Namun kerapatan jaring laba-laba lebih kecil dibanding besi dengan rasio antara kekuatan regang dan kerapatannya sekitar 5 kali lebih baik dibandingkan dengan besi.

Menurut seorang ahli biologi molekuler Randolph Lewis dari Universitas Wyoming jaring laba-laba memiliki nilai potensial dalam dunia medik dalam melawan infeksi, menyembuhkan luka dan pembendungan darah.

Dari penelitian sebelumnya belum diketahui apakah laba-laba dapat membunuh kuman, namun penelitian pada binatang menunjukkan bahwa jaring laba-laba tidak memicu sistem pertahanan tubuh yang dapat menimbulkan penolakan pada organ yang ditanamkan. Peneliti di Universitas Tufts menemukan bahwa jaring laba-laba dapat digunakan sebagai penggantung untuk menumbuhkan kembali ligament yang rusak.

Para ilmuwan juga mengembangkan jaring laba-laba untuk membuat jahitan yang bagus pada pembedahan sehingga tidak meninggalkan bekas jahitan.

Lebih lanjut dapat dilihat di :

http://en.wikipedia.org/wiki/Silk_spider

http://www.livescience.com/humanbiology/061013_spider_medicine.html

Dikutip dari www.engineering-center.net

Senin, 29 Maret 2010

SARANG LABA-LABA ( bagian 3)


Jaring-jaring tiga dimensi memiliki struktur yang lebih rumit dibanding jaring-jaring dua dimensi. Sementara jaring dua dimensi terletak dalam satu bidang datar, jaring tiga dimensi merupakan struktur tiga dimensi yang rumit. Jaring dari jenis ini mirip sebuah tumpukan bola-bola wool. Karenanya lebih sukar diurus dibanding jaring dua dimensi. Jika jaring menangkap serangga-serangga kecil atau parasit-parasit yang tak berarti, maka banyak pekerjaan yang harus dilakukan laba-laba pemilik jaring. Karena alasan inilah laba-laba ini membuat jaring di tempat yang jauh dari gangguan semacam ini.


Jaring laba-laba memiliki perencanaan tanpa salah dalam segala segi.

Salah satu laba-laba yang menggunakan jaring semacam ini adalah laba-laba Black Widow. Dalam jaring yang memiliki keunggulan arsitektural ini terdapat pula suatu perangkap mekanis. Perangkap ini membentuk bola sutera yang rapat dan lengket. Bola jaring ini diikatkan ke tanah dengan benang-benang yang tidak begitu kuat. Segera setelah mahluk bergerak melekat pada jaringnya, benang-benang pengikat ini putus, dan bola jaring ini karenanya tidak terikat lagi ke tanah. Kemudian, laba-laba segera menarik perangkap tersebut ke atas menuju jaring tiga-dimensi, dan membunuh mangsanya yang telah mati kutu.

Kita harus melihat secara saksama rencana serta cara yang digunakan laba-laba ini dalam membuat perangkapnya, karena nampak sekali terdapatnya unsur kecerdasan yang terlibat dalam perencanaan jaring tersebut. Dengan ataupun tanpa perangkap mekanis, pada jaring-jaring tiga-dimensi digunakan cara yang sama untuk memperlambat gerakan terbang mangsanya.

Penerapannya nampak secara khusus pada kerangka rencana yang menggunakan banyak benang-benang lemah. Ketika serangga tertangkap, benang-benang lemah ini melesak. Karena energi gerak dari serangga tersebut terserap oleh melesaknya benang-benang, kecepatannya menjadi berkurang. Selanjutnya, benang-benang penangkap menjerat serangga yang menggeliat.


Laba-laba Linyphia me-mintal jaring dalam bentuk tempat tidur gantung (dae-rah putih di bagian bawah). Jaring disangkutkan kepada tanaman dengan benang pada bagian puncak dan ba-gian bawah. Serangga yang tertangkap pada benang di bagian atas, jatuh ke dalam. (atas)



Sebagian jaring tiga dimen-si mempunyai konstruksi se-perti kubah. Laba-laba da-pat mengidentifikasi secara pasti bahkan seekor serang-ga kecil yang tertangkap di dalam konstruksi yang rumit ini melalui getaran yang di-timbulkannya.

Tentu saja laba-laba ini tidak belajar sendiri bagaimana membuat jaring-terencana tanpa cacat ini setelah menjalani apa yang disebut periode evolusi. Seperti mahluk hidup lainnya, laba-laba mematuhi perintah Tuhan. Tuhan Yang Maha Pengasih dan Maha Penyayang telah menyerukan hal ini dalam ayat suciNya " segala yang di langit dan di bumi, secara sukarela ataupun terpaksa, tunduk kepadaNya. Dan kepadaNya lah mereka akan dikembalikan". (Surat Ali Imran:83)


Cara Mengurus Jaring


Laba-laba meletakkan desain seperti zig zag di atas jaring mereka untuk mencegah burung merobeknya.

Jaring laba-laba memerlukan pengurusan yang terus menerus, karena bagian spiral lengketnya bisa rusak oleh hujan atau oleh gerakan mangsa yang berusaha lolos. Lebih dari itu, debu yang menempel pada jaring dapat merusak daya lekat benang-benang spiral.

Bergantung pada letaknya, dalam waktu yang singkat - 24 jam, sebuah jaring bisa kehilangan sifat-sifat yang membuatnya mampu menangkap serangga. Karena alasan inilah, jaring dibongkar secara berkala dan dibangun kembali. Laba-laba makan dan mencerna benang-benang jaring yang dibongkarnya. Ia menggunakan asam-asam amino dari benang yang dicernanya untuk membangun jaring yang baru. (Bilim ve Teknik Görsel Bilim ve Teknik Ansiklopedisi (Science and Technology Gorsel Science and Technology Encyclopedia), p. 1090)

Bagian jaring yang dimakan, dan waktunya, berbeda-beda tergantung spesies laba-labanya. Laba-laba taman, misalnya, tidak pernah menyentuh kerangka jaring, tetapi hanya makan benang jari-jari dan benang spiralnya saja.

Laba-laba tropis membangun jaring-jaringnya pada malam hari dan memakannya menjelang pagi. Laba-laba di daerah panas makan jaringnya pada malam hari dan membangun yang baru untuk keperluan siang hari, karena di daerah ini serangganya tidak sebanyak di daerah tropis. Karena alasan inilah jaringnya harus tetap terpasang disepanjang siang.
Membangun Jaring Sesuai Mangsanya


Atap Stadion Olimpiade Munich terinspirasi oleh jaring laba-laba. Dengan bentuk ini, berbagai tegangan didistribusikan dengan merata ke seluruh atap.

Laba-laba membuat jaringnya sesuai dengan ukuran mahluk-mahluk yang hendak ditangkapnya. Laba-laba Amerika Selatan, misalnya, membuat jaring dengan bukaan sempit untuk memudahkan penangkapan semut putih yang keluar mencari sarang baru di bulan September. Jika ingin berburu kupu-kupu besar, laba-laba ini memperluas bukaannya dan menambah kekuatan serta elastisitas jaringnya.

Sudut jaring pun berubah bergantung jenis mangsa yang ingin ditangkap (serangga terbang, berjalan, merayap, dll). Ini untuk mengurangi kerusakan dan meningkatkan kapasitas penangkapan.